Achaa… Achaaa.. A Trip to Puttaparty, India

•June 10, 2010 • Leave a Comment

I have just returned from a pilgrim trip, or we call it Tirtayatra, to Puttaparty in Bangalore, India. Mata rasanya masih belum bisa diajak berkompromi, bawaannya sepet terusss.. Tapi dengan setengah maksa diri, I decide to start on typing my trip, sebelum kenangannya mengabur dari memory gw..

So… where should I begin?

Perjalanan ini, bisa dibilang, adalah impian yang cukup lama tertunda. Di satu sisi, tertunda karena masalah waktu dan biaya, dan di sisi lain, I am a type of person who kinda believe in waiting for my call to go for sucha spiritual trip. And I finally hear the calling last year.

Semua bermula di akhir tahun lalu, waktu nyokap gw memasukkan sebuah buku doa kecil ke dalam tas kerja gw tanpa sepengetahuan gw. I remember, I was quite stressed at that time. Biasa lah, work issues. So when I found this lil book inside my bag, and started to read it, somehow … I just couldn’t stop my tears from flowing for the wordings, and the prayers in this book have touched and soothed my very cords. This prayer book is printed under the name of Sri Sathya Sai Baba, a holy man from India that, many people believe as the last Avatar. He doesn’t teach new religion. Sebaliknya, sang Bhagavan justru menganjurkan agar para pengikutnya menunaikan ibadah sesuai keyakinan dan agama masing-masing dengan setaat-taatnya. Ajaran beliau lebih mengenai kasih sayang dan toleransi antar umat beragama. Gw pribadi sudah mendengar mengenai keberadaan sang Bhagavan cukup lama karena ibu adalah salah satu anggota di Mandir atau tempat berkumpul orang-orang yang mengikuti ajaran beliau, dan walau pun gw sendiri bukan pengikut, namun keindahan ajaran Beliau, bahkan beberapa ‘miracles’ Beliau pernah juga gw rasakan. Tentang ini bisa jadi satu cerita sendiri, jadi mendingan gw focus aja dulu ama cerita mengenai perjalanannya karena kalo engga, mata kalian pasti belekan semua ngebaca tissue gulung gw yang melompat2 ga jelas arahnya.

Anyway, that was the first call. Setelahnya, ngga angin, ngga hujan, nyokap tau2 ngajak gw pergi ke ashram Sai Baba di India di akhir tahun ini buat nemenin beliau. Wah, mau donk… Keknya udah waktunya deh, gitu pikiran gw. Walau begitu, deep down in my heart, masih ada beberapa ganjalan yang berhubungan dengan soal timing nya, secara the trip will be at the end of the year and will take about a month time or sumthin. Ayayaay, buat kuli kek gw, riweh nich judulnya. Without telling anyone, I was secretly wish that, perjalanan itu bisa dimajuin. Tiba2 emak gw nelpon dengan sedihnya untuk mengabarkan bahwa quota untuk trip akhir tahun ternyata sudah penuh dan biaya pun melonjak tinggi. Gw hanya bisa menggigit bibir dan berusaha menghibur diri sendiri, well … some other time perhaps. Sampai kemudian suatu malam gw bermimpi, gw tuh jadi ke India! Emang sich adaaaa aja kejadiannya, yang koper gw salah taro lah, yang gw nyaris ditinggal bis yang akan membawa kita ke bandara lah, tapi ending2nya, gw jadi berangkat!
Gw sampe nulis di status gw di FB, “mimpi yang aneh, tapi indah. Seandainya bisa jadi kenyataan…” Nah, a few days after this strange dream, suddenly my mom called again to ask if I would be interested to join in a pilgrim trip on May, for there is still some space available left by the Thailand team who will go there to attend Buddha Poornima, suatu perayaan yang kita di Indonesia, nyebutnya hari raya Waisak gitu. Rentang masa tinggalnya pun tidak terlalu lama, hanya sekitar 2 mingguan, dan harga tiketnya pun terjangkau. Kalo gw bilang, that this is just a mere coincidence, rasanya terlalu kepedean deh. Apalagi nyokap bilang bahwa Sai Baba itu bisa mendengar bisikan hati juga. So, walo pun mungkin ada yang akan bilang gw ini superstitious, tapi gw yakin banget, ada suatu power diatas sana yang telah memanggil gw untuk pergi dan membantu mengaturnya agar timing nya sesuai dg harapan hati kecil gw. Well, whateva, “Baba … I am coming to India! Sai Ram!” …

Right so, setelah menempuh perjalanan yang melelahkan yang dimulai dari jam 3.00 pagi dari Bali menuju KL untuk transit selama hampir 8 jam, kami akhirnya tiba di bandara Bengaluru di Bangalore sekitar jam 6.00 malam dan langsung dilanjutkan dengan berkendara sekitar 3 jam memakai jip-jip seperti yang ada di film-film India itu menuju Puttaparty tempat Prasahanti Nilayam berlokasi, ini adalah ashram tempat kami akan tinggal selama 12 hari.

Prashanti Nilayam adalah sebuah complex tempat Sri Sathya Sai Baba tinggal yang berdiri diatas tanah yang sangat luas. Terdiri dari tempat tinggal sang Bhagavan, sebuah aula yang luar biasa besar dengan hiasan khas India tempat kami melakukan Dharsan dan Bhajan atau puja pagi dan sore. Disini lah kami berkumpul setiap sore untuk bertemu sang Bhagavan, mengharap berkatnya. Selain itu, terdapat juga asrama-asrama yang menggunakan kode mata angin sebagai petunjuk lokasi, i.e. kami tinggal di N3, artinya asrama North 3. Kalau tidak salah hitung, asrama North sendiri totalnya ada 10. Setiap asrama terdiri dari 4 lantai, dengan kamar2 yang mirip kos-kosan pake kamar mandi dalam. Disamping asrama, terdapat juga kuil-kuil pemujaan kecil, i.e. Ganesh temple, Trimurti temple, Subramanyan temple, Laksmi Devi temple. Juga ada beberapa canteen yang menjual makanan ala Eropa disebut Western canteen dan satu lagi, Indian food canteen, yang sayangnya saat kami disana, sedang di renovasi. Yang tidak kalah pentingnya, ada library juga, lalu toko-toko yang menjual sayur dan buah segar, ice cream, cake and bakery, dan semacam supermarket yang menjual segala pernak pernik kebutuhan pengunjung selama tinggal disana, mulai dari sabun cuci, noodle sampai dupa yang luar biasa wangi, baju2 ala Punjabi gitu, dan kain sari India yang terkenal bagus kualitasnya.

The first thing about this place that hit me instantly was … the heat. Ampun deh, sodara2, disana kering dan panaaasss , nasss, naasss… banget! Bali aja kan udah panas ya, tapi di Puttaparty, Bangalore ini, suhu sepertinya mencapai 40ºC atau lebih deh, gw ngga tau pasti. Yang jelas ya, kalo kita nyuci baju, trus kita jemur di jendela kamar, within 2-3 hours, pakaian kita itu udah kering saking panasnya tuh hawa. Keberadaan kipas angin di langit2 kamar pun sepertinya tidak banyak membantu, sedangkan AC sepertinya adalah satu benda yang langka. Bahkan telapak kaki gw sampai terkelupas-kelupas saking panasnya. Kan disini kita sering harus lepas alas kaki. Jadi kalo udah masuk tengah hari gitu, lantai di area2 tanpa atap yang kita injak, bener2 terasa seperti membakar telapak kaki deh! Yang jelas, bawaan gw disana keringetan mulu karena gerah. Kalo biasanya di Bali gw suka malas-malasan mandi, karena ngerasa kerja di ruang AC kan ngga keluar keringet yah, nah selama disana, gw terpaksa jadi pengkhianat dari gank Mandi Tak Mandi Tetap Cihuy, hehehe… Sehari gw bisa mandi 4-5 kali. Pertama, mandi jam 3.30 subuh sebelum Suprabatham, atau doa pagi. Mandi kedua, sekitar jam 8.30 sebelum Dharsan pagi. Mandi ketiga, sore jam 3.00, sebelum Dharsan sore. Mandi keempat, menjelang tidur jam 9.00 malam. Kalau diantara waktu Dharsan pagi dan sore, gw jalan ke supermarket, bisa dipastikan pas baliknya gw mandi dulu sebelum istirahat siang. If I have to sum up my whole activities in India, it will consist of praying and taking shower deh kayanya. Saking intense nya tuh 2 kegiatan! Wkwkwk…

Satu hal yang terngiang terus dalam ingatan gw selama disana ya, adalah kata2 nyokap yang mengatakan bahwa, karma kita masing2 yang akan menentukan kemudahan maupun tantangan yang harus kita hadapi selama menjalankan berbagai kegiatan persembahyangan disana. Secara gw ngerasa that I am a sinner, berlumur dosa2 tak berampun deh diri gw ini, makanya gw bawaannya pasrah aja. Intinya gw udah siap mental kalo emang gw harus menebus karma2 jelek gw sekarang, yowess lah..

However, kemudahan demi kemudahan yang justru gw dapatkan selama menjalani perjalanan ibadah ini membuat gw engga henti-hentinya menangis dan bersyukur. Misalnya ya, waktu gw ikut Suprabatham atau doa pagi. Karena tempatnya terbatas, maka para Sawadhal atau gw bilangnya, bodyguards, yang very strict dan cenderung galak, bener2 mengatur jumlah bhakta yang dapat masuk ke ruang tsb. Begitu ruangan penuh, meski pun kita sudah antri dari pagi2 buta, jangan harap kita diijinkan masuk. Di hari pertama, gw ngintil terus dibelakang nyokap. Maklum, masih inosen… hehehe.. Waktu akan masuk kedalam ruangan, Sawadhal2 atau bodyguards ini dengan teliti akan melakukan body search, isi dompet pun diperiksa dan kalau ditemukan benda2 yang terlarang spt HP atau kamera, pasti disuruh taruh diluar. Tas pun harus yang kecil. Untung gw ngedengerin kata hati gw untuk membawa satu tas mini yg biasanya jadi tempat koin, karena kemudian terbukti, tas pinggang gw yg sebetulnya tidak termasuk berukuran besar pun, sempat jadi bahan pertimbangan diantara mereka untuk memperbolehkan gw masuk atau tidak (psst, akhirnya boleh masuk koq. Modal senyum memelas! Hehehe) Anyway, back to the first morning, Sawadhal di dalam ruang Suprabatham menyuruh nyokap gw masuk dan duduk di baris paling belakang. Sementara gw yang ngintil dibelakang si umak, dan berusaha keliatan seperti anak baik2 dg tersenyum penuh sopan santun (caela) sambil mengucapkan salam “Sai Ram”, tiba2 ditanya oleh Sawadhal tua, bermuka angker, yang sepertinya adalah ketua gank disana, “Are you foreigner?” Sambil heran2, “Errrhh, yes Mam, I am from Bali, Indonesia.” Aduh, gw mau diapain nih, udah jerih aja hati. Jan2 deze tau lagi kalo gw anak baru, mo di ospek kali nih. Hehehe… Perintah Sawadhal berikutnya membuat gw terperangah, ah, ah, ah … “Come, you sit in the front.” Hah??? Gw yg slenge’an dan kotor penuh noda ini disuruh duduk di saff paling depan dekat altar? Ga salah? Ternyata tidak, sodara2… Dan duduk bersila lah gw di depan orang2 yg bahkan sudah antri lebih pagi dari pada gw. I wasn’t sure what I did to deserve such an honor but, you bet, gw hanya bisa sujud syukur sambil nangis dan nangis dan nangiisss… Acara doa pagi ini kemudian menjadi favorit gw. Ruangannya tidak terlampau besar, di dekor dengan gambar Sai Baba serta orang2 suci yang tersenyum lembut dengan altar di bagian depan. Wangi setanggi, melati dan dupa memenuhi udara, dan… nah ini dia. Doa pagi selalu ditutup dengan lagu pujian yang dibawakan oleh seorang nenek tua dan gemuk, yang kalo jalan langkahnya diseret2 seperti orang sakit asam urat. Tapi jangan salaaa… Tampang bole tuwir, tapi nenek2 ini ya, ternyata mempunyai suara seperti seorang gadis muda. Sangat lembut, dan manis seperti… apa ya, kalo gw bilang kaya lelehan madu, sounds lebay ya? But that’s the closest thing I can say about her voice. Dia akan bernyanyi sambil memainkan alat musik yang gw ngga tau namanya. Bentuknya seperti piano tetapi ukurannya kecil sekali. Setiap kali dia mulai menyanyi, lampu di dalam ruangan akan dimatikan, meninggalkan kami, para Bhakta, menikmati lagu pujian yang dinyanyikan dengan sangat hikmat dan penuh kerinduan, meleleh manis seperti madu, di dalam kegelapan. Keluar2, perasaan tuh bening banget! Ruang yang digelapkan itu juga sangat membantu gw yang selama disana mendadak jadi cengeng luar binasa. Ga jelas deh tapi saluran air mata gw keknya longgar banget deh bautnya. Dikit2 ngocor, dikit2 mbleber… Lebay banget lah pokoknya. Gw bener2 ga bisa berpisah dg handuk kecil ala tukang2 becak itu jadinya. Multifungsi banget! Dari mulai ngelap keringet, air mata sampe ingus. Hehehe…

Sri Sathya Sai Baba, sang Bhagavan sendiri, biasanya hadir memberi berkat pada waktu Dharsan dan Bhajan sore. Mungkin karena usia beliau sudah cukup lanjut ya, jadi udara siang yang panas, cenderung membuat beliau cepat lelah. Makanya beliau lebih sering hadir waktu sore saja.

Dengar2, sebelum rombongan kami tiba, Sai Baba sudah hampir 2 minggu tidak keluar pada saat Dharsan. Tapi dari hari pertama hingga terakhir kami datang dan ikut Dharsan serta Bhajan, beliau ada terus. Sai Ram… Sebagai rombongan ‘foreigners’, bersama Bhakta atau participants dari negara2 lain seperti Malaysia, Thailand, Nepal, Srilanka, Vietnam, dll, rombongan kami mendapat kesempatan selama beberapa hari untuk duduk di area VIP di dalam aula. Area ini paling dekat dengan panggung tempat Sai Baba duduk. Orang2 mengatakan, semakin dekat tempat kita duduk dg beliau, maka aura serta berkat yang terpancar dari beliau pun akan kian merasuk.

Tepat di puncak perayaan Budha Poornima atau Waisak, rombongan kami sekali lagi mendapat kesempatan duduk di bagian VIP. Karena posisinya yang strategis, Bhakta yang mendapat tempat disini tidak bisa duduk seenaknya. Secara gw kan orangnya broken dan cuwawakan gitu ya, lagi2 gw pasrah. Misalnya pun, karena factor keadaan, gw engga bisa duduk di area VIP ini, gw sich nerimo duduk di tempat orang biasa. Ngga ambisian seperti beberapa rekan seperjalanan gw gitu deh pokoknya. Tapi sekali lagi, miracle happened. Gw justru diusir pergi dari tempat duduk orang biasa dan lagi2, disuruh duduk di saff paling depan di area VIP. Bahkan lebih di depan dibandingkan kaum ‘ambitious’ yang sudah antri berpanas2 dari siang hari. Sai Ram… Semakin merasa mendapat berkah karena saat sang Bhagavan memasuki aula, posisi beliau benar2 dekat sekali dengan tempat gw duduk. While he stared at me, I can only sit speechlessly. And then later on, waktu salah seorang ibu yang duduk di sebelah gw bilang, “Karmanya Ratna pasti baik sekali. Baru pertama kali ke India sudah bisa langsung ketemu dengan Bhagavan, malah dapat kesempatan duduk dan dilihat sedemikian dekat oleh beliau.” Guess what this sinner did… Yoaaa, cyiiin, gw langsung termehek2 lagi! Hikss…

Selain mengikuti doa dan acara puja di Prashanti Nilayam, gw juga berkesempatan mengunjungi pohon Kalpataru, yang terkenal sebagai pohon keinginan, serta pohon Bodi.

Di pohon Bodi, gw mencoba meditasi. Karena belum pernah meditasi sebelumnya, jujur, I wasn’t sure what to do. But I remember, Elizabeth Gilbert wrote about her meditation experience in her book, Eat, Pray and Love. She tries to speak to her body. Jadi gw pun menirunya dan mencoba berkomunikasi dengan tubuh gw sendiri. Awalnya memang terasa aneh banget. Tapi gw maju terus. Gw berterima kasih kepada mata, karena dia telah memungkinkan gw melihat keindahan dunia, mengenal warna, serta benar2 membantu gw yang sangat suka membaca ini. Gw juga minta maaf karena kadang2 meski pun gw tau dia lelah, gw tetep memaksanya untuk melek hanya karena gw kepengen nonton film yg ga penting sebenernya. Semua anggota tubuh pokoknya gw ajak bicara satu-satu, kaki, tangan, jantung… Gw bilang terima kasih dan minta maaf karena gw cenderung take them for granted. Gw mulai nangis tidak terkendali (oya, gw sengaja nyari tempat meditasi yang agak jauh dari orang2. Jaga2 ajaaa… hehehe) sewaktu gw meminta maaf kepada hati. Selama ini hati lah yang membuat gw tetap manusiawi dan punya pengharapan, tetapi gw sering lalai dan tidak bisa menjaganya dengan baik, sehingga dia sering disakiti orang, gw percayakan dia kepada orang yang ternyata kemudian, mematahkan dan menyia-nyiakannya. Ibarat veteran perang, gw tau persis, hati gw lah yang selama ini paling banyak menanggung beban kepedihan hidup gw. Kalo setiap luka hati gw diperban, mungkin bentuk hati gw udah menyerupai mumi kali. Tapi walau pun rada2 koma, my heart still beating and work for my sake. Sai Ram… Tubuh ini hanyalah pinjaman. Barang maya. Namun demikian, adalah kewajiban kita untuk memeliharanya sebaik mungkin hingga tiba saatnya kita kembalikan ke asalnya, kepada tanah, air, api dan udara.

Dikisahkan, pada saat Sai Baba masih kecil, beliau senang bermain dan memanjat pohon Kalpataru yang terletak di tebing di ketinggian, dekat sungai Citravati. Ketika teman2 beliau meminta buah2an, dengan kesaktiannya, beliau mengubah buah pohon ini menjadi buah yang sesuai dengan permintaan teman2 beliau tsb., jadi jeruk, jadi anggur, atau apel. Dari cerita ini, berkembanglah kepercayaan bahwa jika kita memiliki suatu keinginan, kita dapat menuliskannya diatas selembar kertas dan mengikatkannya di pohon ini. Dengan berkat Yang Maha Kuasa, usaha serta ikhtiar, keinginan itu niscaya akan menjadi kenyataan. Di pohon Kalpataru inilah gw menggantungkan beberapa surat yang berisi harapan2 gw, termasuk harapan agar persahabatan gw dengan temen2 gw tersayang, si mbah, k-Uyun, Poe, teh Nike, Lia, Ichwan, Ranti, Sri A, dan masih banyak lagi lainnya, langgeng dan selalu dipenuhi kehangatan. Astungkara …

Di hari2 terakhir masa tinggal kami di Puttaparty, kami diajak berkeliling melihat beberapa tempat yang masih berhubungan dengan Sai Baba. Misalnya, danau tempat Sai Baba menghabiskan masa kecilnya, juga tempat Sirdhi dilahirkan, yaitu reinkarnasi Sai Baba sebelum kelahirannya yang sekarang. Juga mengunjungi Museum yang menyimpan berbagai jejak langkah sang Bhagavan, serta Super Specialty Hospital, yaitu rumah sakit untuk penyakit2 khusus seperti jantung dan kanker yang diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu yang banyak sekali terdapat di India, tanpa menarik bayaran. Rumah sakit baru ini merupakan sumbangan dari mantan pemilik HardRock Café yang memutuskan untuk menjual bisnisnya dan tinggal di Puttaparty bersama sang Bhagavan. Acara keliling2 ini menggunakan bajay yang ngebut dan ngepot gila2an, tapi asyik! Hehe..
Ada satu kejadian lucu, Sinu, driver bajay gw, bercerita bahwa adiknya juga bernama Ratna, sama seperti gw. Umurnya 16th. Lalu dia bertanya umur gw sendiri berapa, yang gw jawab apa adanya, yaitu menjelang 40th. Dengan mata melotot dan tampang kaget setengah mati, Sinu menoleh ke bangku penumpang di belakang tempat gw duduk untuk bertanya memastikan kupingnya tidak salah dengar. Hehehe… “No, Sinu, you heard me correct, my age is almost four zero, and not one four!” hehehe.. Thank God, life has been treating me quite kindly, itu sebabnya tampang gw bisa cukup awet, engga boros! 

So, that’s it. 12 hari yang cukup melelahkan secara fisik, but truly enrich me mentally and spiritually. Di hari terakhir, gw mempersembahkan kelapa dan rangkaian melati sambil berdoa di depan Ganesh, sang dewa pelindung. Gw mohon pamit dan berharap bahwa suatu hari nanti gw akan mendapat kesempatan untuk kembali dan kembali lagi ke sana. Seperti pesan nenek Parvita yang manis dan baik hati yang mengajak gw berkenalan di hari kedua gw mengikuti Dharsan di aula, “Remember, Ratna, many lights, but only one power!” Iya betul, ada banyak agama, kepercayaan dan aliran, namun sumbernya 1 juga, yaitu Tuhan Yang Maha Kasih.

Aum Sai Ram…

YOU’RE THE OCEAN

•December 10, 2009 • Leave a Comment

A beautiful song by Teitur …

There’s too much sky, not enough blue
There’s too many questions to why I love you
There’s too many clouds, not enough sun
The rain must fall on everyone

I’m fire-you’re the ocean
I’m energy-you’re the rhythm
Love is somewhere in between
What you believe and what you dream
I’m just trying to make you mine
You’re the ocean

There’s too much doubt and not enough dare
There’s too much decision everywhere
There’s too much talk and not enough time
Let’s close our eyes and not our minds

I’m fire-you’re the ocean
I’m energy-you’re the rhythm
Love is somewhere in between
What you believe and what you dream
I’m just trying to make you mine

You look for leads, I follow clues
You love to win, I dare to lose
Mostly you’re a mind game in my head

You are earth, I am water
I can give you what you’re after
You can be the word:I can be the rhyme:
There’s really nothing you can do
You’re going where I’m going too
Stay beside me, stay beside me
I want you

I’m fire-you’re the ocean
I’m energy-you’re the rhythm
Love is somewhere in between
What you believe and what you dream
I’m just trying to make you mine
You’re the ocean

Tentang Cinta

•November 11, 2009 • 1 Comment

… because this is just too beautiful (and painfully true) to be kept alone, so after a few edited words, I choose to publish and share it in my blog. I hope – whomever wrote it at the first place – won’t mind of me taking sucha liberty:

Cinta ibarat KUPU-KUPU
Makin kau kejar, makin ia menghindar
tapi bila kau biarkan ia terbang.
ia akan menghampirimu disaat kau tak menduganya.
cinta bisa membahagiakanmu tapi sering pula menyakiti.
tapi cinta itu hanya istimewa, apabila kau berikan pada seseorang yang
layak menerimanya…….
jadi….tenang saja, jangan tergesa-gesa
hingga kau bisa memilih yang terbaik bagimu.

Untuk kalian yang ……RAGU – RAGU DENGAN PERNIKAHAN
Cinta bukanlah perkara menjadi “SEMPURNA” bagi seseorang.
melainkan justru menemukan seseorang yang dapat membantu
‘menyempurnakan’ dirimu dan dirinya.

Untuk kalian yang…….TIPE PLAYBOY / PLAYGIRL
Jangan katakan “AKU CINTA PADAMU” bila kau tidak benar-benar peduli padanya.
Jangan bicarakan soal perasaan -perasaan itu bila tidak benar – benar adanya.
Jangan kau Sentuh hidup seseorang bila kau berniat mematahkan hatinya.
Jangan menatap kedalam matanya bila apa yang kau katakan cuma DUSTA.
Hal terkejam yang bisa kau lakukan ialah membuat seseorang jatuh cinta,
padahal kau tidak berniat sama sekali untuk menangkapnya saat ia terjatuh……

Untuk kalian yang ………SUDAH MENIKAH
Kalau Cinta jangan katakan
“INI SALAHMU !” tapi maafkan aku ya?
Bukan “KAU DIMANA?! ” melainkan “AKU ADA DISINI”
Bukan “KOK BISA SIH KAU BEGITU ?” tapi “AKU MENGERTI “
Dan bukan “COBA, SEANDAINYA KAU…. ” akan tetapi
“TERIMA KASIH YA, KAMU BEGITU….”

Untuk kalian yang……PATAH HATI
Sakit patah hati hanya bertahan selama kau menginginkannya
dan akan mengiris luka sedalam kau mengijinkannya.
Tantangannya bukanlah bagaimana bisa mengatasi hati yang patah
melainkan hikmah apa yang bisa diambil sebagai pelajaran.

Untuk kalian yang………….BELUM PERNAH JATUH CINTA
Bagaimana kalau jatuh cinta : Mau jatuh, jatuhlah.
Tapi jangan sampai terjerumus, tetaplah konsisten tapi jangan terlalu “NGOTOT”
Berbagilah dan jangan sekali – kali bersikap tidak fair.
Berpengertianlah dan cobalah untuk tidak menuntut.
Bersiaplah juga untuk terluka dan menderita,
tapi ingat, jangan kau simpan semua rasa sakitmu itu hingga menutup kesempatanmu
untuk jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi.

Untuk kalian yang ………INGIN MENGUASAI
Hatimu patah melihat yang kau cintai berbahagia dengan orang lain,
tapi bukankah seharusnya akan lebih sakit mengetahui
bahwa yang kau cintai ternyata tidak bahagia bersamamu?

Untuk kalian yang………..TAKUT MENGAKUI
Cinta terasa menyakitkan bila engkau memutuskan hubungan dengan seseorang yang masih engkau pedulikan.
Bisa lebih sakit lagi manakala seseorang yang engkau cintai, memutuskan hubungannya denganmu.
Tapi sesungguhnya, yang paling menyakitkan adalah
apabila orang yang kau cintai sama sekali tidak mengetahui
mengenai perasaanmu terhadapnya.

Untuk kalian yang……… MASIH BERTAHAN MENCINTAI SESEORANG YANG SUDAH PERGI
Hal menyedihkan dalam hidup ialah bila kau bertemu seseorang lalu jatuh cinta,
hanya untuk menyadari pada akhirnya bahwa dia bukanlah jodohmu.
Dan kau telah menyia2 kan bertahun-tahun untuk seseorang yang tidak layak.
Jikalau sekarang saja, ia sudah tak layak,
10 tahun dari sekarang pun,
ia juga tidak akan layak mendapatkan hatimu.
maka biarkanlah dia pergi dan lupakan………

My Birthday

•November 7, 2009 • 2 Comments

It’s my birthday today. Tidak ada perayaan yang meriah, selain acara makan-makan bersama keluarga dekat dan beberapa kawan-kawan akrab. Bahkan kado dari yang tersayang pun tidak ada. Dulu hal-hal seperti pesta, hadiah, kartu ucapan … terasa penting sekali. Kalau orang yang kita cinta lupa mengucapkan selamat, rasanya sangat terpukul. Tapi sekarang… semua itu terasa .. trivial.. sepele… ga penting banget gitu loh. Ngga tau kenapa. Apakah itu pertanda kedewasaan? Atau justru tanda-tanda takut ketahuan bertambah tua? hehehe…Ngga penting.

Anyway, menerima ucapan selamat ulang tahun yang bertubi-tubi lewat sms dan facebook, membuat mataku jadi berkaca-kaca. Ternyata kawan-kawanku dimana pun mereka berada ‘bother’ juga gitu lho untuk mengirimkan ucapan selamat untukku. Terutama menerima doa dari kawan2 sesama Banditoz 7. The year Banditoz 7 ini mengambil bagian dalam kehidupanku, which was about 4 years ago if I am not mistaken – karena samaan dengan aku join di tempat kerjaku yang sekarang – was definitely one of the most blessing year in my life. Ever since then, keberadaan mereka ber-6 semakin membuatku merasa lengkap. Meski pun kami tidak bisa sering2 bertemu secara langsung karena faktor jarak, namun setiap ulang tahun yang sudah aku lalui bersama email2 mereka yang beterbangan setiap harinya, benar2 menjadikan umur2 yang berlalu itu jadi terasa luar biasa bermakna karena persahabatan mereka bener2 berharga buat aku.

In short, rasanya terharu banget, karena aku masih dikasih kesempatan merayakan ultah lagi hari ini. Bukan apa2, tapi entah kenapa, aku mendadak teringet pada Gita, my dearest friend who died last August. Tahun lalu kami masih ketawa2 gila bareng ngerayain ultahku di Pizza Hut, tapi tahun ini, Gita engga ada lagi.  Rada2 dzzzzing gitu lho… Apa aku masih akan merasakan ultah berikutnya tahun depan? I dunno … Ini semua bikin aku jadi merenung .. Hari ini umur aku nambah, berarti jatah hidupku berkurang. Waktuku pun semakin pendek sementara amalku masih sangat sedikit, kebahagiaan yang bisa aku bagikan ama keluarga, maupun temen2ku tersayang pun belum seberapa … Belum lagi kalu kita ngomongin hal2 yang ingin kita lakukan dalam hidup ini … dari yang paling sederhana aja, kepengen ngajak anak2 jalan ke Jakarta ngeliat Monas … kapan kesampeannya ya? Boro2 lagi cita2 terpendam lainnya, pengen belajar main gitar lah, pengen menari lagi lah, pengen lebih intense olah raga biar perut six pack lah, pengen traveling ngeliat negeri2 lain lah … Aduh, bagaimana ini … So many wishes, so little time to do it .. (so little money too .. hahahaha).

Having said that, aku tetep bersyukur … Tuhan masih mengijinkan aku mengambil bagian dalam kehidupan. Segala hal yang sudah aku lalui, yang manis mau pun yang getir, semua merupakan hadiahNya untuk membentukku menjadi manusia yang lebih baik lagi. Ngomongin harapan masa depan … tidak muluk-muluk lah. Cukup kiranya jika aku bisa meraih kesuksesan yang hakiki … dimana aku bisa mendekati garis akhirku, sebagai manusia, yang lebih baik dibandingkan saat aku berangkat di awal perjalanan.  Meski pun jauh dari sempurna, tapi dengan ijinNya, semoga aku juga bisa terus membagi tawa, membawa terang, menjadi tumpuan sahabat2ku yang membutuhkan dorongan dan tempat menumpahkan air mata. Hingga ketika pita finish itu aku lampaui, mereka akan selalu mengingatku dengan rasa hangat di hatinya. Amin.

Manis Galungan 2009

•October 17, 2009 • Leave a Comment

Seperti biasanya, setiap hari raya Galungan, kantor selalu memberikan jatah libur 3 hari untuk merayakannya. Tahun ini hari raya kemenangan Dharma atas Adharma itu jatuh pada tgl. 14 Oktober kemarin. Badan tepar. Tapi hati rasanya penuh dengan rasa bahagia … Ngga tau gimana, tapi gw ngerasa, Tuhan baik banget ma gw, sembahyang gw kemarin tuch dimudahkan banget soalnya! Biasa kan namanya sembahyang hari raya, Pura dimana-mana penuh sesaakkk… panas teriiikkk… parkiran padat! Somehow, despite all the challenges, I was very lucky … Gw dapet tempat parkir yang cukup deket ama lokasi Pura sehingga gw engga perlu jalan kaki jauh2… Gw selalu dapet tempat duduk yang teduh dan adem sehingga sembahyang gw bisa khusyuuu… Aduh, pokoknya, gw bersyukur banget! Sekali2nya gw kepanasan ya, cuma pas sembahyang di rumah gw di Denpasar. Sumthin that unavoidable .. soalnya, seperti Galungan sebelum-sebelumnya, gw selalu baru mulai sembahyang di rumah Denpasar sekitar jam 1 siang gitu, karena paginya gw ngebantuin adik ipar gw dulu di rumah mertukow.

Manis Galungan tahun ini, gw sekeluarga juga menyempatkan diri pergi sembahyang ke Pura Luhur Batukaru. Tempatnya di kaki gunung Batukaru di daerah Tabanan. Untuk mencapainya, kita harus melewati sumber mata air panas yang disebut Yeh Panes, serta berhektar-hektar area persawahan di daerah Penebel serta Jatiluwih, dengan padi yang menghijau menyejukkan mata. Indah sekali! Daerah ini memang terkenal sebagai lumbung padi di Bali. Udara di daerah ini termasuk dingin untuk ukuran pulau seperti Bali yang dikitari pantai yang panas. Turunnya suhu terasa sekali saat gw baru aja turun dari mobil, secara gw berasa kaya ikan yang tiba2 dimasukin ke dalam refrigerator! Gigi langsung gemeletuk dan badan menggigil … Bekuuu.. hehehe..

Hari tsb., kami sengaja memilih pergi bersembahyang ke Pura Luhur Batukaru, bukan hanya karena di pura ini sedang ada upacara, tetapi kebetulan juga, putri sulung gw, Kirana beserta murid-murid yang tergabung di dalam sanggar tari tempatnya kursus, pada hari itu juga sedianya akan menghaturkan tarian sakral yang disebut tari Rejang. Tari ini menjadi semacam tari pemujaan sebelum upacara di pura resmi dibuka. Jadi selain sembahyang, kami juga berencana untuk menonton Kirana menunjukkan kemahirannya menari untuk pertama kalinya. Sebagai orang tua, I was swelled with pride karena melihat putri sulung gw akan menari, seperti gw dulu waktu kecil! Like mother, like daughter lah! hehe..  Pendeknya, kami semua bener2 excited .. Bahkan si Adek pun niat banget untuk pergi, sampai dia nyaris tidak mau tidur karena takut tidak bisa bangun subuh2 seperti diharuskan oleh kakaknya, yang memang ditunggu di sanggar untuk merias rambut tepat jam 5 pagi!

Rombongan kami yang konvoi beriringan dengan mobil2 penari lainnya tiba di pura kurang lebih jam 7. Secara kita kan termasuk dalam rombongan sanggar tari yang akan menghaturkan performance ya, ditambah dengan kedatangan kita yang cukup pagi, pas suasana Pura masih sepi, alhasil kita dapet tempat parkir di dekat pura, hanya berjarak 5 menit dari candi bentar atau gerbang pura. Sungguh satu hal yang sangat gw syukuri, karena banyak orang lain, terpaksa parkir di bawah, kira2 1 kilo dari pura dan mereka harus berjalan kaki mendaki ke Pura, dibawah terik matahari siang hari, sambil membawa persembahan yang tentunya tidak bisa dibilang ringan. What a blessing …

Setelah semua penari selesai dirias, sekitar jam 10.30 siang, mereka bergerak dengan lemah gemulai diiringi irama gamelan tepat di dalam jaba Pura. Asap dupa yang ditancapkan di setiap hiasan kepala para penari mengawang lembut di udara, meninggalkan keharuman yang memabukkan. Kirana dan teman-temannya dengan luwes melempar selendang, bergerak membentuk putaran, melirikkan bola mata dengan tajam, lalu merunduk seperti tersipu .. Sigh .. I can’t say more except that I feel so blessed to have this beauty as my eldest and to see her follow my legacy in sucha graceful movements ..

Setelah Kirana selesai menari, acara persembahyangan pun dimulai. Karena hari sudah cukup siang ketika kami mulai, maka tidak heran jika setiap tempat pemujaan dipenuhi ‘pemedek’ atau bahasa kerennya, para pencari Tuhan. hehehe.. Kami harus siap berdesakan untuk sekedar bisa masuk ke dalam. Sekali lagi, gw merasakan betapa Hyang Widi sungguh mengasihi gw. Selain selalu bisa masuk ke setiap tempat pemujaan tanpa perlu antri terlalu lama, gw juga selalu berhasil mendapatkan tempat duduk di keteduhan sehingga gw bisa fokus dan berdoa dengan khusyuk… Betapa Tuhan Maha Penyayang dan Maha Tahu! Paham aja Beliau kalo gw ini ga tahan panasshhh… bisa melted gw kaya mentega diatas wajan.. hahahaha… Too bad, Mr. Big telanjur mati gaya. Dia emang paling benci himpit2an, jadi yang ada dia milih nungguin gw di luar pura dan hanya mau masuk kalo masih ada ruang. Gw hanya bisa geleng2 kepala, uda ga bisa ngomong … hiksss… Mo gw omelin, serba salah, pan niat gw baeee, mo sembahyang booo… Ntar kalu gw emosi, yang ada pahala gw berkurang dwooonk.. Ih, rugi banget, mana uda segitu perjuangannya jugaaa.. hehehehe… Jadi ya udin, pokoknya gw sich fokus mensyukuri barokah gw aja dah! Mungkin karena gw engga marah ya padahal kelakuan deze kekanak2an gitu, pulangnya dengan manisnya tiba2 dia nawarin makan siang dulu di RM yang ngejual ikan bakar! Wohohohoooo… rejeki nich! Mr. Big, tempo2, you are so sweet … hehehe… Yang jelas, acara makan siang kami yang terdiri dari ikan gurami panggang, lalapan dengan sambal matah yang endang gulindang serta bergelas-gelas es jeruk manis dingin, sungguh merupakan penutup yang sempurna dari Manis Galungan kami hari itu. :-)

Thank God for a lovely holly Galungan day.

PUISI RINDU

•October 17, 2009 • Leave a Comment

Rindu yang gemuruh,

adalah nyanyian ilalang di padang jauh

Pijar api di dadaku,

adalah matahari yang hanguskan debu

Saat hitam menjadi teman

kelabu bintang yang terlupakan

kutahan rinduku pada awan

yang menyerpih di ujung bulan

Dan bila cerita harus terhenti

ditelan riuhnya suara hati

meski hujan dan pasir hanyut

tenggelam digulung laut

aku percaya

dalam putih dan terang

cinta yang merah akan datang

bawa aku terbang

berputar meniti pelangi

bersama angin menjelang pagi

raih yang tersisa dan merapuh

dari puing2 bintang yang dulu jatuh

Gita’s in Memoriam

•October 17, 2009 • Leave a Comment

After months, I finally find the guts to write about one painful moment in my life. The departure of my lovely dahling friend, Gita Maharani. She passed away last August due to bronchomonia.

Gita and I are of the same age, and along 2 other girls, Nilam and Jesika, we were quickly becoming close friends as we share the same wicked sense of humor. She was beautiful in the outside, without making other girls felt threaten, as she was as lovely at the inside. She was a bundle of energy and so sparklingly alive that, being close to her, like it or not, her contagious laugh will get into you too. Being young, none of us would ever dream that one of us will leave the other at such an early stage. There are a lot of things that we want to do together, but now, we won’t get the chance.

Gita’s death was sucha cold reminder of how fragile and how precious the life of our beloved ones actually are. We can loose them at a glimpse, without as much as a warning … Lives will be snatched from right under our noses .. and leave us hollow for days that follow.

About a week after her funeral, I had a dream. Gita came to my house and we were chatting and joking like we used to do. She even took the opportunity to change in my closet. Everything’s perfect. Only after she has to leave and turned so bright, like she was circled by a halo of stars, that I remember … that she has joined His Angels troops. I awoke with tears on my face. The loss felt so painfully real that I know, Gita’s spirit must have visited me that night. It was sad but, beautiful at the same time, for I now know … she misses me too and wants to say good bye to me. Well, one thing I am certain, she will be one of the Most Chic Angel of The Year up there. Farah Fawcett can’t even beat her, I bet..  ha ha ..

A friend of mine, wrote a beautiful statement in her notes about her passing father in law. I shall now repeat it and share it in loving memory of Gita, for it was perfectly describing my feeling towards her …

“I know for certain that we never lose the people we love, even to death. They continue to participate in every act and thought we make. Their love leaves an indelible imprint in our memories. We find comfort in knowing that our lives have been enriched by having shared their love…”

It’s so true. Gita’s presence in my life, however short, has leave a deep footprint in my heart and the memory of our friendship will always be treasured.

Good bye, my dearest Chic. Till we meet again in the next chapter …

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.