I have just returned from a pilgrim trip, or we call it Tirtayatra, to Puttaparty in Bangalore, India. Mata rasanya masih belum bisa diajak berkompromi, bawaannya sepet terusss.. Tapi dengan setengah maksa diri, I decide to start on typing my trip, sebelum kenangannya mengabur dari memory gw..
So… where should I begin?
Perjalanan ini, bisa dibilang, adalah impian yang cukup lama tertunda. Di satu sisi, tertunda karena masalah waktu dan biaya, dan di sisi lain, I am a type of person who kinda believe in waiting for my call to go for sucha spiritual trip. And I finally hear the calling last year.
Semua bermula di akhir tahun lalu, waktu nyokap gw memasukkan sebuah buku doa kecil ke dalam tas kerja gw tanpa sepengetahuan gw. I remember, I was quite stressed at that time. Biasa lah, work issues. So when I found this lil book inside my bag, and started to read it, somehow … I just couldn’t stop my tears from flowing for the wordings, and the prayers in this book have touched and soothed my very cords. This prayer book is printed under the name of Sri Sathya Sai Baba, a holy man from India that, many people believe as the last Avatar. He doesn’t teach new religion. Sebaliknya, sang Bhagavan justru menganjurkan agar para pengikutnya menunaikan ibadah sesuai keyakinan dan agama masing-masing dengan setaat-taatnya. Ajaran beliau lebih mengenai kasih sayang dan toleransi antar umat beragama. Gw pribadi sudah mendengar mengenai keberadaan sang Bhagavan cukup lama karena ibu adalah salah satu anggota di Mandir atau tempat berkumpul orang-orang yang mengikuti ajaran beliau, dan walau pun gw sendiri bukan pengikut, namun keindahan ajaran Beliau, bahkan beberapa ‘miracles’ Beliau pernah juga gw rasakan. Tentang ini bisa jadi satu cerita sendiri, jadi mendingan gw focus aja dulu ama cerita mengenai perjalanannya karena kalo engga, mata kalian pasti belekan semua ngebaca tissue gulung gw yang melompat2 ga jelas arahnya.
Anyway, that was the first call. Setelahnya, ngga angin, ngga hujan, nyokap tau2 ngajak gw pergi ke ashram Sai Baba di India di akhir tahun ini buat nemenin beliau. Wah, mau donk… Keknya udah waktunya deh, gitu pikiran gw. Walau begitu, deep down in my heart, masih ada beberapa ganjalan yang berhubungan dengan soal timing nya, secara the trip will be at the end of the year and will take about a month time or sumthin. Ayayaay, buat kuli kek gw, riweh nich judulnya. Without telling anyone, I was secretly wish that, perjalanan itu bisa dimajuin. Tiba2 emak gw nelpon dengan sedihnya untuk mengabarkan bahwa quota untuk trip akhir tahun ternyata sudah penuh dan biaya pun melonjak tinggi. Gw hanya bisa menggigit bibir dan berusaha menghibur diri sendiri, well … some other time perhaps. Sampai kemudian suatu malam gw bermimpi, gw tuh jadi ke India! Emang sich adaaaa aja kejadiannya, yang koper gw salah taro lah, yang gw nyaris ditinggal bis yang akan membawa kita ke bandara lah, tapi ending2nya, gw jadi berangkat!
Gw sampe nulis di status gw di FB, “mimpi yang aneh, tapi indah. Seandainya bisa jadi kenyataan…” Nah, a few days after this strange dream, suddenly my mom called again to ask if I would be interested to join in a pilgrim trip on May, for there is still some space available left by the Thailand team who will go there to attend Buddha Poornima, suatu perayaan yang kita di Indonesia, nyebutnya hari raya Waisak gitu. Rentang masa tinggalnya pun tidak terlalu lama, hanya sekitar 2 mingguan, dan harga tiketnya pun terjangkau. Kalo gw bilang, that this is just a mere coincidence, rasanya terlalu kepedean deh. Apalagi nyokap bilang bahwa Sai Baba itu bisa mendengar bisikan hati juga. So, walo pun mungkin ada yang akan bilang gw ini superstitious, tapi gw yakin banget, ada suatu power diatas sana yang telah memanggil gw untuk pergi dan membantu mengaturnya agar timing nya sesuai dg harapan hati kecil gw. Well, whateva, “Baba … I am coming to India! Sai Ram!” …
Right so, setelah menempuh perjalanan yang melelahkan yang dimulai dari jam 3.00 pagi dari Bali menuju KL untuk transit selama hampir 8 jam, kami akhirnya tiba di bandara Bengaluru di Bangalore sekitar jam 6.00 malam dan langsung dilanjutkan dengan berkendara sekitar 3 jam memakai jip-jip seperti yang ada di film-film India itu menuju Puttaparty tempat Prasahanti Nilayam berlokasi, ini adalah ashram tempat kami akan tinggal selama 12 hari.
Prashanti Nilayam adalah sebuah complex tempat Sri Sathya Sai Baba tinggal yang berdiri diatas tanah yang sangat luas. Terdiri dari tempat tinggal sang Bhagavan, sebuah aula yang luar biasa besar dengan hiasan khas India tempat kami melakukan Dharsan dan Bhajan atau puja pagi dan sore. Disini lah kami berkumpul setiap sore untuk bertemu sang Bhagavan, mengharap berkatnya. Selain itu, terdapat juga asrama-asrama yang menggunakan kode mata angin sebagai petunjuk lokasi, i.e. kami tinggal di N3, artinya asrama North 3. Kalau tidak salah hitung, asrama North sendiri totalnya ada 10. Setiap asrama terdiri dari 4 lantai, dengan kamar2 yang mirip kos-kosan pake kamar mandi dalam. Disamping asrama, terdapat juga kuil-kuil pemujaan kecil, i.e. Ganesh temple, Trimurti temple, Subramanyan temple, Laksmi Devi temple. Juga ada beberapa canteen yang menjual makanan ala Eropa disebut Western canteen dan satu lagi, Indian food canteen, yang sayangnya saat kami disana, sedang di renovasi. Yang tidak kalah pentingnya, ada library juga, lalu toko-toko yang menjual sayur dan buah segar, ice cream, cake and bakery, dan semacam supermarket yang menjual segala pernak pernik kebutuhan pengunjung selama tinggal disana, mulai dari sabun cuci, noodle sampai dupa yang luar biasa wangi, baju2 ala Punjabi gitu, dan kain sari India yang terkenal bagus kualitasnya.
The first thing about this place that hit me instantly was … the heat. Ampun deh, sodara2, disana kering dan panaaasss , nasss, naasss… banget! Bali aja kan udah panas ya, tapi di Puttaparty, Bangalore ini, suhu sepertinya mencapai 40ºC atau lebih deh, gw ngga tau pasti. Yang jelas ya, kalo kita nyuci baju, trus kita jemur di jendela kamar, within 2-3 hours, pakaian kita itu udah kering saking panasnya tuh hawa. Keberadaan kipas angin di langit2 kamar pun sepertinya tidak banyak membantu, sedangkan AC sepertinya adalah satu benda yang langka. Bahkan telapak kaki gw sampai terkelupas-kelupas saking panasnya. Kan disini kita sering harus lepas alas kaki. Jadi kalo udah masuk tengah hari gitu, lantai di area2 tanpa atap yang kita injak, bener2 terasa seperti membakar telapak kaki deh! Yang jelas, bawaan gw disana keringetan mulu karena gerah. Kalo biasanya di Bali gw suka malas-malasan mandi, karena ngerasa kerja di ruang AC kan ngga keluar keringet yah, nah selama disana, gw terpaksa jadi pengkhianat dari gank Mandi Tak Mandi Tetap Cihuy, hehehe… Sehari gw bisa mandi 4-5 kali. Pertama, mandi jam 3.30 subuh sebelum Suprabatham, atau doa pagi. Mandi kedua, sekitar jam 8.30 sebelum Dharsan pagi. Mandi ketiga, sore jam 3.00, sebelum Dharsan sore. Mandi keempat, menjelang tidur jam 9.00 malam. Kalau diantara waktu Dharsan pagi dan sore, gw jalan ke supermarket, bisa dipastikan pas baliknya gw mandi dulu sebelum istirahat siang. If I have to sum up my whole activities in India, it will consist of praying and taking shower deh kayanya. Saking intense nya tuh 2 kegiatan! Wkwkwk…
Satu hal yang terngiang terus dalam ingatan gw selama disana ya, adalah kata2 nyokap yang mengatakan bahwa, karma kita masing2 yang akan menentukan kemudahan maupun tantangan yang harus kita hadapi selama menjalankan berbagai kegiatan persembahyangan disana. Secara gw ngerasa that I am a sinner, berlumur dosa2 tak berampun deh diri gw ini, makanya gw bawaannya pasrah aja. Intinya gw udah siap mental kalo emang gw harus menebus karma2 jelek gw sekarang, yowess lah..
However, kemudahan demi kemudahan yang justru gw dapatkan selama menjalani perjalanan ibadah ini membuat gw engga henti-hentinya menangis dan bersyukur. Misalnya ya, waktu gw ikut Suprabatham atau doa pagi. Karena tempatnya terbatas, maka para Sawadhal atau gw bilangnya, bodyguards, yang very strict dan cenderung galak, bener2 mengatur jumlah bhakta yang dapat masuk ke ruang tsb. Begitu ruangan penuh, meski pun kita sudah antri dari pagi2 buta, jangan harap kita diijinkan masuk. Di hari pertama, gw ngintil terus dibelakang nyokap. Maklum, masih inosen… hehehe.. Waktu akan masuk kedalam ruangan, Sawadhal2 atau bodyguards ini dengan teliti akan melakukan body search, isi dompet pun diperiksa dan kalau ditemukan benda2 yang terlarang spt HP atau kamera, pasti disuruh taruh diluar. Tas pun harus yang kecil. Untung gw ngedengerin kata hati gw untuk membawa satu tas mini yg biasanya jadi tempat koin, karena kemudian terbukti, tas pinggang gw yg sebetulnya tidak termasuk berukuran besar pun, sempat jadi bahan pertimbangan diantara mereka untuk memperbolehkan gw masuk atau tidak (psst, akhirnya boleh masuk koq. Modal senyum memelas! Hehehe) Anyway, back to the first morning, Sawadhal di dalam ruang Suprabatham menyuruh nyokap gw masuk dan duduk di baris paling belakang. Sementara gw yang ngintil dibelakang si umak, dan berusaha keliatan seperti anak baik2 dg tersenyum penuh sopan santun (caela) sambil mengucapkan salam “Sai Ram”, tiba2 ditanya oleh Sawadhal tua, bermuka angker, yang sepertinya adalah ketua gank disana, “Are you foreigner?” Sambil heran2, “Errrhh, yes Mam, I am from Bali, Indonesia.” Aduh, gw mau diapain nih, udah jerih aja hati. Jan2 deze tau lagi kalo gw anak baru, mo di ospek kali nih. Hehehe… Perintah Sawadhal berikutnya membuat gw terperangah, ah, ah, ah … “Come, you sit in the front.” Hah??? Gw yg slenge’an dan kotor penuh noda ini disuruh duduk di saff paling depan dekat altar? Ga salah? Ternyata tidak, sodara2… Dan duduk bersila lah gw di depan orang2 yg bahkan sudah antri lebih pagi dari pada gw. I wasn’t sure what I did to deserve such an honor but, you bet, gw hanya bisa sujud syukur sambil nangis dan nangis dan nangiisss… Acara doa pagi ini kemudian menjadi favorit gw. Ruangannya tidak terlampau besar, di dekor dengan gambar Sai Baba serta orang2 suci yang tersenyum lembut dengan altar di bagian depan. Wangi setanggi, melati dan dupa memenuhi udara, dan… nah ini dia. Doa pagi selalu ditutup dengan lagu pujian yang dibawakan oleh seorang nenek tua dan gemuk, yang kalo jalan langkahnya diseret2 seperti orang sakit asam urat. Tapi jangan salaaa… Tampang bole tuwir, tapi nenek2 ini ya, ternyata mempunyai suara seperti seorang gadis muda. Sangat lembut, dan manis seperti… apa ya, kalo gw bilang kaya lelehan madu, sounds lebay ya? But that’s the closest thing I can say about her voice. Dia akan bernyanyi sambil memainkan alat musik yang gw ngga tau namanya. Bentuknya seperti piano tetapi ukurannya kecil sekali. Setiap kali dia mulai menyanyi, lampu di dalam ruangan akan dimatikan, meninggalkan kami, para Bhakta, menikmati lagu pujian yang dinyanyikan dengan sangat hikmat dan penuh kerinduan, meleleh manis seperti madu, di dalam kegelapan. Keluar2, perasaan tuh bening banget! Ruang yang digelapkan itu juga sangat membantu gw yang selama disana mendadak jadi cengeng luar binasa. Ga jelas deh tapi saluran air mata gw keknya longgar banget deh bautnya. Dikit2 ngocor, dikit2 mbleber… Lebay banget lah pokoknya. Gw bener2 ga bisa berpisah dg handuk kecil ala tukang2 becak itu jadinya. Multifungsi banget! Dari mulai ngelap keringet, air mata sampe ingus. Hehehe…
Sri Sathya Sai Baba, sang Bhagavan sendiri, biasanya hadir memberi berkat pada waktu Dharsan dan Bhajan sore. Mungkin karena usia beliau sudah cukup lanjut ya, jadi udara siang yang panas, cenderung membuat beliau cepat lelah. Makanya beliau lebih sering hadir waktu sore saja.
Dengar2, sebelum rombongan kami tiba, Sai Baba sudah hampir 2 minggu tidak keluar pada saat Dharsan. Tapi dari hari pertama hingga terakhir kami datang dan ikut Dharsan serta Bhajan, beliau ada terus. Sai Ram… Sebagai rombongan ‘foreigners’, bersama Bhakta atau participants dari negara2 lain seperti Malaysia, Thailand, Nepal, Srilanka, Vietnam, dll, rombongan kami mendapat kesempatan selama beberapa hari untuk duduk di area VIP di dalam aula. Area ini paling dekat dengan panggung tempat Sai Baba duduk. Orang2 mengatakan, semakin dekat tempat kita duduk dg beliau, maka aura serta berkat yang terpancar dari beliau pun akan kian merasuk.
Tepat di puncak perayaan Budha Poornima atau Waisak, rombongan kami sekali lagi mendapat kesempatan duduk di bagian VIP. Karena posisinya yang strategis, Bhakta yang mendapat tempat disini tidak bisa duduk seenaknya. Secara gw kan orangnya broken dan cuwawakan gitu ya, lagi2 gw pasrah. Misalnya pun, karena factor keadaan, gw engga bisa duduk di area VIP ini, gw sich nerimo duduk di tempat orang biasa. Ngga ambisian seperti beberapa rekan seperjalanan gw gitu deh pokoknya. Tapi sekali lagi, miracle happened. Gw justru diusir pergi dari tempat duduk orang biasa dan lagi2, disuruh duduk di saff paling depan di area VIP. Bahkan lebih di depan dibandingkan kaum ‘ambitious’ yang sudah antri berpanas2 dari siang hari. Sai Ram… Semakin merasa mendapat berkah karena saat sang Bhagavan memasuki aula, posisi beliau benar2 dekat sekali dengan tempat gw duduk. While he stared at me, I can only sit speechlessly. And then later on, waktu salah seorang ibu yang duduk di sebelah gw bilang, “Karmanya Ratna pasti baik sekali. Baru pertama kali ke India sudah bisa langsung ketemu dengan Bhagavan, malah dapat kesempatan duduk dan dilihat sedemikian dekat oleh beliau.” Guess what this sinner did… Yoaaa, cyiiin, gw langsung termehek2 lagi! Hikss…
Selain mengikuti doa dan acara puja di Prashanti Nilayam, gw juga berkesempatan mengunjungi pohon Kalpataru, yang terkenal sebagai pohon keinginan, serta pohon Bodi.
Di pohon Bodi, gw mencoba meditasi. Karena belum pernah meditasi sebelumnya, jujur, I wasn’t sure what to do. But I remember, Elizabeth Gilbert wrote about her meditation experience in her book, Eat, Pray and Love. She tries to speak to her body. Jadi gw pun menirunya dan mencoba berkomunikasi dengan tubuh gw sendiri. Awalnya memang terasa aneh banget. Tapi gw maju terus. Gw berterima kasih kepada mata, karena dia telah memungkinkan gw melihat keindahan dunia, mengenal warna, serta benar2 membantu gw yang sangat suka membaca ini. Gw juga minta maaf karena kadang2 meski pun gw tau dia lelah, gw tetep memaksanya untuk melek hanya karena gw kepengen nonton film yg ga penting sebenernya. Semua anggota tubuh pokoknya gw ajak bicara satu-satu, kaki, tangan, jantung… Gw bilang terima kasih dan minta maaf karena gw cenderung take them for granted. Gw mulai nangis tidak terkendali (oya, gw sengaja nyari tempat meditasi yang agak jauh dari orang2. Jaga2 ajaaa… hehehe) sewaktu gw meminta maaf kepada hati. Selama ini hati lah yang membuat gw tetap manusiawi dan punya pengharapan, tetapi gw sering lalai dan tidak bisa menjaganya dengan baik, sehingga dia sering disakiti orang, gw percayakan dia kepada orang yang ternyata kemudian, mematahkan dan menyia-nyiakannya. Ibarat veteran perang, gw tau persis, hati gw lah yang selama ini paling banyak menanggung beban kepedihan hidup gw. Kalo setiap luka hati gw diperban, mungkin bentuk hati gw udah menyerupai mumi kali. Tapi walau pun rada2 koma, my heart still beating and work for my sake. Sai Ram… Tubuh ini hanyalah pinjaman. Barang maya. Namun demikian, adalah kewajiban kita untuk memeliharanya sebaik mungkin hingga tiba saatnya kita kembalikan ke asalnya, kepada tanah, air, api dan udara.
Dikisahkan, pada saat Sai Baba masih kecil, beliau senang bermain dan memanjat pohon Kalpataru yang terletak di tebing di ketinggian, dekat sungai Citravati. Ketika teman2 beliau meminta buah2an, dengan kesaktiannya, beliau mengubah buah pohon ini menjadi buah yang sesuai dengan permintaan teman2 beliau tsb., jadi jeruk, jadi anggur, atau apel. Dari cerita ini, berkembanglah kepercayaan bahwa jika kita memiliki suatu keinginan, kita dapat menuliskannya diatas selembar kertas dan mengikatkannya di pohon ini. Dengan berkat Yang Maha Kuasa, usaha serta ikhtiar, keinginan itu niscaya akan menjadi kenyataan. Di pohon Kalpataru inilah gw menggantungkan beberapa surat yang berisi harapan2 gw, termasuk harapan agar persahabatan gw dengan temen2 gw tersayang, si mbah, k-Uyun, Poe, teh Nike, Lia, Ichwan, Ranti, Sri A, dan masih banyak lagi lainnya, langgeng dan selalu dipenuhi kehangatan. Astungkara …
Di hari2 terakhir masa tinggal kami di Puttaparty, kami diajak berkeliling melihat beberapa tempat yang masih berhubungan dengan Sai Baba. Misalnya, danau tempat Sai Baba menghabiskan masa kecilnya, juga tempat Sirdhi dilahirkan, yaitu reinkarnasi Sai Baba sebelum kelahirannya yang sekarang. Juga mengunjungi Museum yang menyimpan berbagai jejak langkah sang Bhagavan, serta Super Specialty Hospital, yaitu rumah sakit untuk penyakit2 khusus seperti jantung dan kanker yang diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu yang banyak sekali terdapat di India, tanpa menarik bayaran. Rumah sakit baru ini merupakan sumbangan dari mantan pemilik HardRock Café yang memutuskan untuk menjual bisnisnya dan tinggal di Puttaparty bersama sang Bhagavan. Acara keliling2 ini menggunakan bajay yang ngebut dan ngepot gila2an, tapi asyik! Hehe..
Ada satu kejadian lucu, Sinu, driver bajay gw, bercerita bahwa adiknya juga bernama Ratna, sama seperti gw. Umurnya 16th. Lalu dia bertanya umur gw sendiri berapa, yang gw jawab apa adanya, yaitu menjelang 40th. Dengan mata melotot dan tampang kaget setengah mati, Sinu menoleh ke bangku penumpang di belakang tempat gw duduk untuk bertanya memastikan kupingnya tidak salah dengar. Hehehe… “No, Sinu, you heard me correct, my age is almost four zero, and not one four!” hehehe.. Thank God, life has been treating me quite kindly, itu sebabnya tampang gw bisa cukup awet, engga boros!
So, that’s it. 12 hari yang cukup melelahkan secara fisik, but truly enrich me mentally and spiritually. Di hari terakhir, gw mempersembahkan kelapa dan rangkaian melati sambil berdoa di depan Ganesh, sang dewa pelindung. Gw mohon pamit dan berharap bahwa suatu hari nanti gw akan mendapat kesempatan untuk kembali dan kembali lagi ke sana. Seperti pesan nenek Parvita yang manis dan baik hati yang mengajak gw berkenalan di hari kedua gw mengikuti Dharsan di aula, “Remember, Ratna, many lights, but only one power!” Iya betul, ada banyak agama, kepercayaan dan aliran, namun sumbernya 1 juga, yaitu Tuhan Yang Maha Kasih.
Aum Sai Ram…
